Sampai Kapan Indonesia?

Sampai kapan…

Rakyat negeri ini bertahan, bersabar atas apa yang para pemimpinnya pertontonkan tiap waktu melalui media cetak maupun elektronik. Pemberantasa korupsi yang begitu manis disuarakan kala kampanye, hilang menguap begitu saja. Janji-janji manis mensejahterakan konstituen, seperti air di atas daun talas, tak berbekas. Konstituen, dalam kamus para wakil rakyat, entah menjadi prioritas nomor berapa. Kasus korupsi yang menjadi hot topik, perlahan namun pasti hilang ditelan bumi. Ah, mungkin siklus kasus di negeri ini memang sudah berubah, menjadi seperti jamur di musim hujan. Tumbuh dan hilang dengan cepat.

Sampai kapan…

Rakyat negeri ini kuat melihat kelakuan wakil-wakilnya yang jauh  dari keberpihakan kepada rakyat. Pelesiran ke luar negeri atas nama studi banding. Dipersoalkan rakyat, para akademisi, para pengamat, namun lagi-lagi, anjing menggonggong kafilah berlalu. Rupanya para wakil-wakil rakyat ini sadar betul karakter rakyat negeri ini yang mudah melupakan, yang berkoar-koar sesaat, namun tak pernah mengambil tindakan nyata. Mencuatnya kasus calo anggaran, sepertinya tidak akan membawa perubahan berarti bagi negeri ini, mungkin sebentar lagi akan ditutupi oleh kasus lain. Ah,,,aku memang selalu saja beranggapan bahwa setiap kasus baru yang muncul adalah untuk menutupi kasus lainnya.  Bukan tanpa alasan. Lihatlah, kasus-kasus itu tak pernah berujung.

Sampai kapan..

Rakyat negeri ini masih bertoleransi terhadap para pemimpinnya yang membiarkan para penghasil devisa negeri ini sengsara di negeri orang. Terancam, teraniaya, ternodai, bahkan terhukum. Para TKI ini selalu saja dibayangi kasus-kasus yang menghinakan di negara mereka mencari nafkah. Digunting, disetrika, dipukul, dinodai, dipancung, ah..ngeri rasanya. Tak bisa kubayangkan. Apa yang sudah diperbuat para pemimpin negeri ini untuk mereka? Apa yang sudah mereka upayakan untuk mengangkat harga diri dan martabat para TKI? Harga diri dan martabat bangsa ini?

Sampai kapan…

Rakyat negeri ini akan bertahan dalam kesemrawutan tak berujung, kemacetan lalu-lintas yang sampai sekarang tak terlihat titik terangnya, bau sampah yang menyengat hampir di setiap pojokkan pasar, para pengemis di setiap lampu merah. Sampai kapan?

Siapa yang akan mengakhiri  ini?

Entahlah. Tapi aku yakin, roda akan selalu berputar.  Kebusukan ini, yang kini sedang duduk manis di atas, kelak akan menemui takdirnya, mengikuti siklusnya menjadi di bawah. Dan semuanya akan segera berganti dengan peradaban yang penuh dengan kebaikan. Cahaya keadlilan, kebijaksanaan, kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian   akan menyinari negeri ini. Sejarah akan terulang ! Dahulu kita kenal Sriwijaya, kita kenal Majapahit. Kelak akan kita kenal di se-antero negeri, kisah negeri makmur, kisah negeri yang penuh kebaikan, Indonesia.

About these ads

About hendrianafaridh
Faridh Hendriana, lahir di Kuningan, kota di ujung timur provinsi jawa barat. Sekarang tinggal di kota Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: