Ramai – ramai Remunerasi

Bagi saya, pemberian remunerasi atau tunjangan kinerja ini menimbulkan perkiraan-perkiraan tersendiri. Terlepas dari keinginan mensejahterakan atau keinginan “terpilih kembali” untuk Kepala Daerah yang mau nyalon lagi, atau sekedar memberikan “tanda mata” sebelum lengser. Bagi saya, pemberian tunjangan ini tetap ada pakem ekonominya. Ada hitung-hitungan ekonominya. Seperti misalnya : bahwa pemberian tunjangan kinerja ini akan meningkatkan konsumsi masyarakat, roda ekonomi berputar, tingkat pertumbuhan ekonomi bisa tercatat baik, industri meningkat, ujung-ujungnya pajak naik, pendapatan naik, bisa bayar utang. Nanti nyari pinjaman juga lebih mudah lagi. Jadi, gak masalah kalau sumber dana untuk pemberian tunjangan kinerja nya pun dari hasil pinjaman. Begitu kira-kira.

Lalu, bagaimana dengan reformasi birokrasi atau peningkatan produktifitas? Sulit bagi saya untuk menyepakati bahwa pemberian tunjangan mampu secara efektif mengikat komitmen seseorang untuk meningkatkan kinerjanya. Pemberian tunjangan baru sebatas dengan catatan : dengan harap kinerjanya meningkat. Penambahan take home pay (THP)  tidak serta merta membuat pegawai memiliki komitmen berlebih terhadap tempat kerjanya. Maka tak heran, peningkatan THP tidak mengubah budaya kerja seseorang.

Apa yang membuat pegawai mau berkomitmen ? Apa yang membuat pegawai mau bersungguh-sugguh bekerja mengeluarkan segenap sumberdayanya? Bagi saya, penting setiap pegawai merasa : dihargai (didengar), diperlakukan sama, diakui (dipakai, tidak disia-siakan), sebagai komponen utama untuk mengikat komitmen selain uang. Secara sederhana, hal ini bisa dilihat dalam sebuah permainan, dalam games, dalam sepak bola. Ya, hobi. Inilah yg mengikat komitmen. Coba lihat, berapa banyak bapak-bapak yang jam 7 pagi sudah ada di lapang tapi begitu susahnya datang jam 8 ke kantor. Ya, itu karena hobi, karena kecintaan. Secara umum, dalam menjalankan hobi, nilai-nilai itu berjalan tanpa disadari. Seseorang bisa memarahi atau dimarahi dalam permainan. Bisa teriak, mengomel sesuka hati, atau apapun itu selama dalam koridor permainan. Tidak ada batasan, tidak ada ketakutan. Permainan selesai, menang-kalah-seri, evaluasi. Beres!  Bisa jadi, karena nilai-nilai ini berjalan tanpa disadari dalam permainan, makanya menghadirkan hobi, menghadirkan kecintaan. Atau mungkin sebaliknya : hobi dan kecintaan lah yang membuat nilai-nilai tersebut diterapkan ? Hmmm..

Inilah PR-nya. Bagaimana nilai-nilai itu ditransformasikan ke dalam pekerjaan. Beruntung yg menjadikan hobinya sebagai pekerjaan, tapi bagi yang tidak sesuai, apakah harus menjadikan pekerjaan sebagai hobinya? he.he.he. tentu tidak !

 

 

Menurunkan Konsumsi BBM Ber-Subsidi? Begini Caranya!

“Premium untuk Golongan Tidak Mampu”

Pernah lihat spanduk di SPBU seperti itu? Atau yang senada lainnya? Tentulah kita tahu, apa tujuan spanduk itu : mengurangi konsumsi BBM subsidi. Supaya “yang mampu” tidak beli premium !

Apakah anjuran atau provokasi itu berhasil? Sebagian menjawab iya, sebagian lagi tidak. Silahkan googling kawan, supaya lebih afdhol. Saya sendiri lebih memilih jawaban kedua : tidak.

Saya tidak akan membahas kenapa saya menjawab tidak. Saya hanya akan mencoba memberikan saran untuk pemerintah, supaya program menurunkan konsumsi BBM bersubsidi membuahkan hasil, walau sedikit.

Kita mulai.

Begini kawan. Pertama kita sepakati dulu, usulan ini akan difokuskan untuk pengguna kendaraan roda dua alias motor.

Secara sederhana, kita bisa kelompokan pengemudi motor ini kedalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang secara ekonomi pas-pasan. Yang dalam hal penggunaan BBM, apapun yang terjadi, bagi mereka tetap akan menggunakan premium. Kelompok kedua adalah mereka yang kadang menggunakan premium dan sesekali menggunakan pertamax. Secara ekonomi berkecukupan. Hanya saja banyak yang  berprinsip, kalau bisa lebih murah why not. Kelompok ketiga adalah mereka yang menggunakan pertamax. Mereka ini biasanya mengendarai tunggangan keluaran terbaru.

Bagaimana menurunkan konsumsi BBM ber-subsidi. Ah terlalu panjang, kita sebut saja premium. Bagaimana menurunkan konsumsi premium? Jawabannya : Dengan mengalihkan kelompok kedua ini masuk ke kelompok ketiga. Mendorong mereka yang kadang memakai premium kadang pertamax, menjadi lebih sering menggunakan pertamax. Misalnya perbandingan penggunaan premium : pertamax yang semula 80% : 20%, bisa kita balik menjadi 20% : 80%.

Begini caranya.

Pertama, kita perlu memahami keunikan orang Indonesia. Ada satu hal unik yang bisa menjadi celah kita menerapkan strategi pengelolaan SPBU supaya konsumsi premium menurun. Apa itu? Orang Indonesia tidak suka menunggu, tidak suka antri. Is that right?

Ini indikasinya : nyerobot antrian acapkali kita temui. Timnas, pengennya menang terus. Tidak mau menunggu timnas untuk tumbuh, berkembang, saling pengertian sebagai sebuah tim hingga mereka mampu memberikan kemenangan. Makanan instant tumbuh subur. Masih kurang bukti? Yang paling menonjol adalah praktek nembak SIM sudah menjadi hal yang lumrah. Mereka rela membayar mahal asal bisa memperoleh SIM dengan cara cepat. Apakaha anda salah satunya? He.he.he

Inilah kata kuncinya : tidak suka menunggu, rela membayar lebih mahal.

Karakteristik inilah yang kemudian kita manfaatkan untuk pengelolaan SPBU.

Pertama, kita desain setiap SPBU untuk memiliki tempat pengisian premium khusus motor. Sebagian besar SPBU sudah menyediakan tangki  khusus untuk motor. Berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat pertama, untuk jalur motor ini, hanya menyediakan premium. Karena jalur motor ini memang diperuntukkan untuk kalangan yang tidak mampu membeli pertamax.  Syarat kedua, pada jalur ini hanya ada satu selang pengisian premium, yang artinya hanya  bisa melayani tiap satu motor, tidak paralalel kiri-kanan seperti di SPBU pada umumnya. Syarat ketiga, hanya menempatkan seorang petugas SPBU secara bergilir. Syarat terakhir, tangki untuk pertamax di jalur lain disediakan dengan jumlah yang lebih banyak, baik untuk motor maupun mobil. Artinya selang pertamax yang disediakan lebih banyak, juga dengan petugas yang mumpuni. Dimana para pengendara pun bebas memilih mengisi pertamax di jalur pengisian manapun.

Untuk apa semua itu?

  1. Membuat “ketidaknyamanan” di tangki pengisian premium. Karena hanya satu selang dan satu petugas, otomatis antrian panjang. Dan ingat, ada pengendara motor  yang tidak mau antri ataupun sedang tergesa-gesa, bahkan khawatir terlambat masuk kantor.
  2. Membuat tangki pengisian pertamax lebih nyaman. Tidak ada antrian. Sehingga, para pengendara motor yang melihat antrian panjang di jalur pengisian premium, segera beralih ke tangki pertamax.

Inilahyang kita upayakan, mendorong orang-orang pada kelompok kedua untuk lebih banyak menggunakan pertamax. Dengan kondisi tangki pengisian premium yang antri bahkan mengular ini, mereka dihadapkan pada pilihan : tetap mengantri dengan resiko lama bahkan terlambat masuk kerja atau beralih ke pertamax dengan keuntungan menghemat waktu. Dengan basic ekonomi yang berkecukupan,ingin perjalanan lebih cepat, pada akhirnya mereka yang ada pada kelompok kedua ini akan beralih menggunakan pertamax.

Dan perlu diingat, kita tidak berbicara pengelolaan hanya pada satu SPBU, tapi semua SPBU menerapkan strategi yang sama.

Kenapa tidak dihilangkan saja BBM bersubsidi? He.he.he anda ingin didemo masyarakat…Sebagai pemimpin, alangkah bijaknya ketika kita berani memberikan pilihan dan membiarkan masyarakatlah yang menentukan pilihan dengan segala resikonya. Itulah demokrasi.

Aku Cinta Produk Indonesia, Aneh !

Aku Cinta Produk Indonesia…Aku Cinta Indonesia…Beli Indonesia…Gunakan Produk Dalam Negeri…100% Cinta Indonesia..

Lalu, dibawah slogan-slogan itu, terpampanglah produk-produk asing. Ini  loh produk-produk asing itu. Kemudian ditutup dengan anjuran manis : Mari kita gunakan produk dalam negeri…

Betapa banyak anjuran untuk menggunakan produk dalam negeri, tapi kita tidak pernah ditunjukkan produk dalam negeri kita yang mana. Kita hanya ditunjukkan : ini produk asing ! itu produk negeri seberang ! Lah, kok kita tidak dikenalkan dengan produk dalam negerinya. Ibaratnya kita disuruh kenalan dengan si A, tapi justru kita dikenalkan dengan orang lain, kan aneh. Kan mestinya di-ta’aruf-kan dengan si A.

Maka tak heran, gerakan aku cinta produk Indonesia ini seperti…ah entah seperti apa… klise, ramai-ramai di mulut tapi susah melaksanakannya. Entah berhasil atau tidak. Saya tidak berani mengatakan tidak berhasil, karena saya tidak punya datanya. Tapi bukan hasil akhir yang saya kritisi, tapi prosesnya.

Kamu harus minum susu dalam negeri ! Ini loh produk susu dari Amerika, Eropa, China. Tolong gunakan produk susu dalam negeri yah. Jadi, yangdalam negeri itu yang mana? Capek juga kan kalau setiap belanja mesti membolak-balikkan kemasannya supaya bisa tahu ini produk dalam negeri atau bukan.

Teringat wejangan  R.H Wiwoho ketika memberika pembekalan di Medan : Anjuran itu harus dengan kata-kata positif ! Jangan sekali-kali membuat kalimat perintah dengan menggunakan kata-kata negatif seperti tidak, jangan dan semacamnya. Coba pejamkan mata anda “Jangan membayangkan seekor kuda putih dengan ekor hitam?”. Apa yang ada dalam bayangan anda? Ya, tepat sekali, anda benar. KUDA PUTIH DENGAN EKOR HITAM ! Begitulah otak bekerja.

Kembali lagi, mana produk dalam negeri kita? Sudah mah susah mencarinya, eh yang diingatkan ke publik malah produk-produk asing. Ini produk China, Itu produk Amerika. Mestinya : Ieu produk Bandung, iki produk Tegal.

Ah, itu kan sama artinya iklan gratis bagi produk tersebut. Lah, bukannya bagus. Justru klo diiklankan maka masyarakat akan tahu dan akhirnya membeli produk dalam negeri. Lagian, iklan di negeri ini juga diisi produk-produk asing. Habis lah kita.

Tapi, kalau kita sebutkan, nanti produk-produk lain yang belum disebutkan jadi iri? Dianggap tidak adil. Mau sampai kapan mengumpulkan datanya? Sampai produk dalam negeri ter-list semua, baru kemudian membuat pengumuman? Heureuy sugan..Coba saja setahap-setahap, nanti disempurnakan. Umumkan saja sekarang ! Makin lama, makin penuh negeri ini dengan produk asing.

Jadikan produk dalam negeri itu melekat dalam benak masyarakat. Ketika terdengar produk pasta gigi, otomatis terbayang sebuah produk pasta gigi dalam negeri. Ketika terdengar produk sabun, otomatis terbayang sebuah produk sabun. Lah sekarang? Bingung, rieut, jangar. Pilih produk saja seperti ikut UAN.he.he.he

Solusi Mengatasi Keterlambatan Karyawan?

Banyak perusahaan, terlebih instansi pemerintah mengalami kesulitan dengan disiplin pegawai. Yang paling nyata, keterlambatan. Penggunaan absensi, baik tulis tangan, fingger print maupun online tidak memberikan dampak signifikan pada penurunan tingkat keterlambatan pegawai. Banyak alasan, banyak argumen. Perjalanan yang macet atau jarak tempuh yang jauh. Ah,,, memang manusia pintar kalau disuruh mencari-cari alasan.

Penetapan aturan yang diiringi ancaman sanksi juga tidak menyurutkan orang untuk datang terlambat. Mengapa bisa begitu? Padahal ancaman sanksi lisan maupun tertulis dengan jelas menjadi konsekuensi keterlambatan. Jawaban yang paling mudah adalah menyalahkan para karyawan “ah dasar memang mereka gak niat untuk datang tepat waktu”.  Ya,,, mungkin solusi konkrit juga ada pada individu-individu tersebut. Menjadikan individu itu sadar dan mau untuk datang tepat waktu. Tapi, tidak adakah cara yang bisa dilakukan oleh management untuk minimal mengurangi angka keterlambatan? Atau mau menunggu karyawan-karyawan itu sadar dan mau datang tepat waktu ?

Meeting!

Apapun istilahnya, pertemuan pagi hari mungkin menjadi alat pengendali yang efektif untuk menurunkan tingkat keterlambatan. Karyawan itu, tidak jauh berbeda perilakunya dengan pengemudi kendaraan di jalan raya. Mereka tidak terlalu takut aturan. Mereka takut kalau ada yang mengawasi. Lampu merah diterobos, rambu-rambu lainnya dilangggar. Selama tidak ada polisi, rambu-rambu itu hampir tidak ada artinya. Jadi, yang mereka takuti adalah polisinya, bukan aturannya.

Bagaimana dengan karyawan? Tidak jauh berbeda.  Mereka lebih segan dan lebih mau menaati aturan ketika ada atasan. Nah, ini yang harus dimanfaatkan!

Meeting akan memaksa karyawan untuk datang tepat waktu. Karena disana ada atasan, juga ada teman-temannya. Segan sama atasan, malu sama teman. Kecuali yang bandel, tapi ya sebandel-bandelnya orang, malu juga kalau datang terlambat sementara yang lain sudah duduk manis menunggunya.

Lalu, apa yang dibicarakan saat meeting?

Ini yang penting! Pertama,  membahas apa-apa saja yang akan dilakukan oleh tiap karyawan pada hari itu. Bahasa kerennya, rencana kerja . Banyak loh karyawan yang datang ke kantor tanpa tahu hari itu mau mengerjakan apa. Hayo ngaku..he.he.he

Kedua, membahas permasalahan-permasalahan yang ditemui hari sebelumnya. Inilah evaluasi. Dan jujur saja, orang Indonesia paling malas untuk melakukan evaluasi, sehingga continuous improvement sulit diterapkan. Jadi, jangan kaget kalau seringkali kita terjatuh pada lubang yang sama.

Nah, sekali mengayuh dayung dua tiga hari pegalnya tak hilang-hilang. Loh ?? maksudnya dua tiga pulau terlampaui he.he.he. Mengurangi tingkat keterlambatan karyawan, sekaligus mengurangi kontrol management terhadap karyawan. Management tidak perlu setiap waktu melihat bawahannya bekerja, sedang mengerjakan ini dan itu, menyuruh mengerjakan ini dan itu. Karena tanggungjawab sudah ditransfer management kepada karyawan pada meeting pagi hari.

Penerapannya?

Cukup unit yang terkecil. Misal tingkat eselon 4, atau sub unit, atau sub divisi. Masalahnya, berani gak para manager berkomitmen menjalankan ini. Berani gak para eselon datang tepat waktu memimpin rapat pagi hari. Jangan justru pemimpinnya tidak hadir dan men-disposisi-kan bawahannya untuk memimpin rapat. Lucu.

Berani coba?

Tukang Listrik : Ces Pleng

Kadang aku berpikir…

Apakah pekerjaan aku sekarang ini memiliki banyak arti bagi dunia. Jangan-jangan, apa yang kukerjakan, kesibukan yang mengharuskanku berangkat pagi pulang malam hanyalah sia-sia. Aku khawatir, apa yang aku kerjakan hanya berakhir di kertas saja. Tidak lebih dari itu!

Kadang, melihat mereka di “belakang” dengan keseharian pakaian lebih lusuh dari aku, mengangkat tangga, melingkarkan kabel, membawa tas kecil di pinggangnya, membuat aku merasa bahwa apa yang kukerjakan tidak lebih baik dari pekerjaannya. Lihatlah, pekerjaannya secara konkrit memiliki dampak bagi kantor kami. Menjaga pasokan listrik, menyambungkan kabel-kabel putus, mengganti lampu-lampu yang mati, menyalakan mesin diesel tatkala supply listrik dari PLN mati mendadak. Hasil pekerjaan mereka, langsung dinikamti oleh client mereka. Ya…kami-lah para client itu yang saban hari bekerja di depan komputer. Tanpa pasokan listrik, pekerjaan kami terhenti. Bahkan yang sedang asyik main game pun menggerutu ketika listrik mati. Ah, yang benar saja listrik bisa mati, (mungkin) yang benar adalah tidak ada aliran listrik.

Melihat keseharian mereka, aku kira beban di pikirannya pun tidak telalu mumet. Semuanya tidak jauh dari permasalahan listrik. Tak ada gangguan listrik, tak ada beban. Mereka bisa menikmati waktu-waktunya dengan keasyikan yang lain. Pekerjaan yang sederhana. Tidak perlu repot-repot membuat grafik, menghitung dengan excel, membuat powerpoint, atau membuat argumen untuk target-target yang tidak terpenuhi. Tapi dampaknya langsung ces pleng. Sekali disambungkan, listrik langsung menyala.

Tengoklah pekerjaanku…

Membuat rencana kerja, (mungkin) lebih tepatnya mengumpulkan rencana kerja orang-orang di kantor. Menganggarkan dana utnuk kegiatan ini dan itu, (mungkin) lebih tepatnya membuat rincian anggaran yang diperintahkan oleh atasan. Membuat laporan, (mungkin)  lebih tepatnya  mengedit laporan orang-orang.  Membuat slide presentasi ini dan itu. Padahal, pekerjaan itu tidak lebih dari menghias tampilan apa-apa yang atasan ingin sampaiakan pada saat presentasi.

 Ah, mengapa tiba-tiba semua ini tampak menjadi terasa hampa, menajdi  tak ada gairah.  Mengikuti rapat ini dan itu, konsinyering ini dan itu. Sementara aku tak yakin dengan hasil dari kegiatan itu. Apakah akan memiliki dampak bagi client (baca : masyarakat), atau sebatas menghabiskan anggaran. Maklum, di tempatku bekerja, ukuran keberhasilan kinerja diukur dari seberapa bagus penyerapan anggaran yang dilakukan. Penyerapan anggaran? Apa tidak salah istilah tuh? Aku tak tahu, apakah dana-dana yang menggelontor dari kas pemerintah itu lebih banyak berakhir untuk kemajuan rakyat, atau lebih banyak berakhir di tumpukkan kertas, tiket pesawat dan billing hotel. Entahlah.

Boleh jadi, tingkat kesulitanku dibandingkan dengan kesulitan mereka yang berada di belakang, berbanding terbalik dengan dampak langsung dari pekerjaan kami bagi dunia. Who knows?

Gung Ho, sahabat…

Tiba-tiba aku disadarkan dengan sangat indah melalui sebuah buku karya Ken Blanchard dan Sheldon Bowles. Gung Ho ! Membacanya, membuatku menemukan secercah titik terang. Semangat sang Tupai, Cara sang Berang-Berang dan Pemberian sang Angsa.

Gung Ho, sahabat…

Sampai Kapan Indonesia?

Sampai kapan…

Rakyat negeri ini bertahan, bersabar atas apa yang para pemimpinnya pertontonkan tiap waktu melalui media cetak maupun elektronik. Pemberantasa korupsi yang begitu manis disuarakan kala kampanye, hilang menguap begitu saja. Janji-janji manis mensejahterakan konstituen, seperti air di atas daun talas, tak berbekas. Konstituen, dalam kamus para wakil rakyat, entah menjadi prioritas nomor berapa. Kasus korupsi yang menjadi hot topik, perlahan namun pasti hilang ditelan bumi. Ah, mungkin siklus kasus di negeri ini memang sudah berubah, menjadi seperti jamur di musim hujan. Tumbuh dan hilang dengan cepat.

Sampai kapan…

Rakyat negeri ini kuat melihat kelakuan wakil-wakilnya yang jauh  dari keberpihakan kepada rakyat. Pelesiran ke luar negeri atas nama studi banding. Dipersoalkan rakyat, para akademisi, para pengamat, namun lagi-lagi, anjing menggonggong kafilah berlalu. Rupanya para wakil-wakil rakyat ini sadar betul karakter rakyat negeri ini yang mudah melupakan, yang berkoar-koar sesaat, namun tak pernah mengambil tindakan nyata. Mencuatnya kasus calo anggaran, sepertinya tidak akan membawa perubahan berarti bagi negeri ini, mungkin sebentar lagi akan ditutupi oleh kasus lain. Ah,,,aku memang selalu saja beranggapan bahwa setiap kasus baru yang muncul adalah untuk menutupi kasus lainnya.  Bukan tanpa alasan. Lihatlah, kasus-kasus itu tak pernah berujung.

Sampai kapan..

Rakyat negeri ini masih bertoleransi terhadap para pemimpinnya yang membiarkan para penghasil devisa negeri ini sengsara di negeri orang. Terancam, teraniaya, ternodai, bahkan terhukum. Para TKI ini selalu saja dibayangi kasus-kasus yang menghinakan di negara mereka mencari nafkah. Digunting, disetrika, dipukul, dinodai, dipancung, ah..ngeri rasanya. Tak bisa kubayangkan. Apa yang sudah diperbuat para pemimpin negeri ini untuk mereka? Apa yang sudah mereka upayakan untuk mengangkat harga diri dan martabat para TKI? Harga diri dan martabat bangsa ini?

Sampai kapan…

Rakyat negeri ini akan bertahan dalam kesemrawutan tak berujung, kemacetan lalu-lintas yang sampai sekarang tak terlihat titik terangnya, bau sampah yang menyengat hampir di setiap pojokkan pasar, para pengemis di setiap lampu merah. Sampai kapan?

Siapa yang akan mengakhiri  ini?

Entahlah. Tapi aku yakin, roda akan selalu berputar.  Kebusukan ini, yang kini sedang duduk manis di atas, kelak akan menemui takdirnya, mengikuti siklusnya menjadi di bawah. Dan semuanya akan segera berganti dengan peradaban yang penuh dengan kebaikan. Cahaya keadlilan, kebijaksanaan, kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian   akan menyinari negeri ini. Sejarah akan terulang ! Dahulu kita kenal Sriwijaya, kita kenal Majapahit. Kelak akan kita kenal di se-antero negeri, kisah negeri makmur, kisah negeri yang penuh kebaikan, Indonesia.

ZONA MERAH : Kata Siapa Orang Indonesia Susah Diatur?

Apakah anda pernah hendak belok kiri (di jalur yang menyediakan jalur belok kiri langsung) tapi terhalang kendaraan yang berhenti karena lampu merah padahal kendaraan itu mau lurus? Trus membunyikan klakson berulang-ulang tapi tidak ada respon dan sopir kendaraan itu dengan enaknya menghalangi jalur kita seolah tidak tahu dan tidak mendengar klakson kita? Kesel, muak, pengen mukulin, kalo perlu dilemparin. Agak lebay sih, tapi memang begitu bukan ? he.he.he.

Pernah lihat RHK (Ruang Henti Khusus) di lampu merah? Saya selalu geleng-geleng kepala. Hanya bisa bicara sendiri “buat apa itu? buat berhenti motor. So what gitu loh? Apa membantu mengurai kemacetan?” Ah,,,rasanya tidak. Mungkin yang membuat RHK itu juga tidak bertujuan mengurai kemacetan. Begitu sepertinya.

Pernah lihat rambu dilarang berhenti “S Coret” tapi ada motor atau mobil yang nongkrong di bawahnya? Mungkin yang nongkrong dibawahnya berpikir “kan yang dilarang berhenti cuma tepat dibawah tanda S Coret saja, kalau geser 2 meter, boleh lah berhenti he.he.he”. Kadang pak polisi juga masih membiarkan itu, kayaknya cape menertibkan itu. Apalagi kalau angkot sudah ngetem. Beuhhh gak usah ditanya, susah digebah (baca : diusir)

Saya ada usul terkait masalah di paragraf pertama.

Pada tiap jalur belok kiri, diberi tanda dilarang berhenti  (S Coret) plus jalannya di cat warna merah kira-kira 30 M x 2 M. Lihat gambar yah.

Nah, area warna merah ini kita sebut saja ZONA MERAH. Dan dipampanglah tulisan “DILARANG BERHENTI SEPANJANG ZONA MERAH”. Sebenarnya aturan dilarang berhenti itu terjadi karena ada TANDA S CORET, zona merah hanya untuk mempertegas saja, area mana saja yang termasuk area dilarang berhenti. Karena, kalau rambu-rambu saja, para pengendara tidak tahu area dilarang berhenti itu dari mana sampai mana.

Dengan adanya ZONA MERAH ini, diharapkan pengendara tahu area dilarang berhenti, sehingga yang hendak belok kiri tidak perlu ikut-ikutan berhenti gara-gara ada kendaraan yang berhenti.

Kenapa saya berani mengusulkan ide ini ?

Lihat RHK (Ruang Henti Khusus), yang berhenti di RHK hanya motor. Mobil di belakang RHK. Artinya, pengendara mau mentaati kalau aturannya jelas. Walaupun tidak dipungkiri ada segelintir pengendara yang nakal atau tidak tahu karena baru melewati jalur itu.

Ah,, kan orang Indonesia susah diatur…

Kata siapa? Siapa yang bilang itu? Hayooo tunjuk tangan…

Pernah lihat orang Indonesia buang sampah sembarangan di Singapura? Atau merokok di MRT? (padahal saya belum pernah kesana he.he.he) Atau pernah lihat orang Indonesia naik taxi di Malaysia bukan dari halte?

Jadi, masih mau bilang orang Indonesia susah diatur?