Tukang Listrik : Ces Pleng

Kadang aku berpikir…

Apakah pekerjaan aku sekarang ini memiliki banyak arti bagi dunia. Jangan-jangan, apa yang kukerjakan, kesibukan yang mengharuskanku berangkat pagi pulang malam hanyalah sia-sia. Aku khawatir, apa yang aku kerjakan hanya berakhir di kertas saja. Tidak lebih dari itu!

Kadang, melihat mereka di “belakang” dengan keseharian pakaian lebih lusuh dari aku, mengangkat tangga, melingkarkan kabel, membawa tas kecil di pinggangnya, membuat aku merasa bahwa apa yang kukerjakan tidak lebih baik dari pekerjaannya. Lihatlah, pekerjaannya secara konkrit memiliki dampak bagi kantor kami. Menjaga pasokan listrik, menyambungkan kabel-kabel putus, mengganti lampu-lampu yang mati, menyalakan mesin diesel tatkala supply listrik dari PLN mati mendadak. Hasil pekerjaan mereka, langsung dinikamti oleh client mereka. Ya…kami-lah para client itu yang saban hari bekerja di depan komputer. Tanpa pasokan listrik, pekerjaan kami terhenti. Bahkan yang sedang asyik main game pun menggerutu ketika listrik mati. Ah, yang benar saja listrik bisa mati, (mungkin) yang benar adalah tidak ada aliran listrik.

Melihat keseharian mereka, aku kira beban di pikirannya pun tidak telalu mumet. Semuanya tidak jauh dari permasalahan listrik. Tak ada gangguan listrik, tak ada beban. Mereka bisa menikmati waktu-waktunya dengan keasyikan yang lain. Pekerjaan yang sederhana. Tidak perlu repot-repot membuat grafik, menghitung dengan excel, membuat powerpoint, atau membuat argumen untuk target-target yang tidak terpenuhi. Tapi dampaknya langsung ces pleng. Sekali disambungkan, listrik langsung menyala.

Tengoklah pekerjaanku…

Membuat rencana kerja, (mungkin) lebih tepatnya mengumpulkan rencana kerja orang-orang di kantor. Menganggarkan dana utnuk kegiatan ini dan itu, (mungkin) lebih tepatnya membuat rincian anggaran yang diperintahkan oleh atasan. Membuat laporan, (mungkin)  lebih tepatnya  mengedit laporan orang-orang.  Membuat slide presentasi ini dan itu. Padahal, pekerjaan itu tidak lebih dari menghias tampilan apa-apa yang atasan ingin sampaiakan pada saat presentasi.

 Ah, mengapa tiba-tiba semua ini tampak menjadi terasa hampa, menajdi  tak ada gairah.  Mengikuti rapat ini dan itu, konsinyering ini dan itu. Sementara aku tak yakin dengan hasil dari kegiatan itu. Apakah akan memiliki dampak bagi client (baca : masyarakat), atau sebatas menghabiskan anggaran. Maklum, di tempatku bekerja, ukuran keberhasilan kinerja diukur dari seberapa bagus penyerapan anggaran yang dilakukan. Penyerapan anggaran? Apa tidak salah istilah tuh? Aku tak tahu, apakah dana-dana yang menggelontor dari kas pemerintah itu lebih banyak berakhir untuk kemajuan rakyat, atau lebih banyak berakhir di tumpukkan kertas, tiket pesawat dan billing hotel. Entahlah.

Boleh jadi, tingkat kesulitanku dibandingkan dengan kesulitan mereka yang berada di belakang, berbanding terbalik dengan dampak langsung dari pekerjaan kami bagi dunia. Who knows?

Gung Ho, sahabat…

Tiba-tiba aku disadarkan dengan sangat indah melalui sebuah buku karya Ken Blanchard dan Sheldon Bowles. Gung Ho ! Membacanya, membuatku menemukan secercah titik terang. Semangat sang Tupai, Cara sang Berang-Berang dan Pemberian sang Angsa.

Gung Ho, sahabat…

About hendrianafaridh
Faridh Hendriana, lahir di Kuningan, kota di ujung timur provinsi jawa barat. Sekarang tinggal di kota Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: