Menurunkan Konsumsi BBM Ber-Subsidi? Begini Caranya!

“Premium untuk Golongan Tidak Mampu”

Pernah lihat spanduk di SPBU seperti itu? Atau yang senada lainnya? Tentulah kita tahu, apa tujuan spanduk itu : mengurangi konsumsi BBM subsidi. Supaya “yang mampu” tidak beli premium !

Apakah anjuran atau provokasi itu berhasil? Sebagian menjawab iya, sebagian lagi tidak. Silahkan googling kawan, supaya lebih afdhol. Saya sendiri lebih memilih jawaban kedua : tidak.

Saya tidak akan membahas kenapa saya menjawab tidak. Saya hanya akan mencoba memberikan saran untuk pemerintah, supaya program menurunkan konsumsi BBM bersubsidi membuahkan hasil, walau sedikit.

Kita mulai.

Begini kawan. Pertama kita sepakati dulu, usulan ini akan difokuskan untuk pengguna kendaraan roda dua alias motor.

Secara sederhana, kita bisa kelompokan pengemudi motor ini kedalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang secara ekonomi pas-pasan. Yang dalam hal penggunaan BBM, apapun yang terjadi, bagi mereka tetap akan menggunakan premium. Kelompok kedua adalah mereka yang kadang menggunakan premium dan sesekali menggunakan pertamax. Secara ekonomi berkecukupan. Hanya saja banyak yang  berprinsip, kalau bisa lebih murah why not. Kelompok ketiga adalah mereka yang menggunakan pertamax. Mereka ini biasanya mengendarai tunggangan keluaran terbaru.

Bagaimana menurunkan konsumsi BBM ber-subsidi. Ah terlalu panjang, kita sebut saja premium. Bagaimana menurunkan konsumsi premium? Jawabannya : Dengan mengalihkan kelompok kedua ini masuk ke kelompok ketiga. Mendorong mereka yang kadang memakai premium kadang pertamax, menjadi lebih sering menggunakan pertamax. Misalnya perbandingan penggunaan premium : pertamax yang semula 80% : 20%, bisa kita balik menjadi 20% : 80%.

Begini caranya.

Pertama, kita perlu memahami keunikan orang Indonesia. Ada satu hal unik yang bisa menjadi celah kita menerapkan strategi pengelolaan SPBU supaya konsumsi premium menurun. Apa itu? Orang Indonesia tidak suka menunggu, tidak suka antri. Is that right?

Ini indikasinya : nyerobot antrian acapkali kita temui. Timnas, pengennya menang terus. Tidak mau menunggu timnas untuk tumbuh, berkembang, saling pengertian sebagai sebuah tim hingga mereka mampu memberikan kemenangan. Makanan instant tumbuh subur. Masih kurang bukti? Yang paling menonjol adalah praktek nembak SIM sudah menjadi hal yang lumrah. Mereka rela membayar mahal asal bisa memperoleh SIM dengan cara cepat. Apakaha anda salah satunya? He.he.he

Inilah kata kuncinya : tidak suka menunggu, rela membayar lebih mahal.

Karakteristik inilah yang kemudian kita manfaatkan untuk pengelolaan SPBU.

Pertama, kita desain setiap SPBU untuk memiliki tempat pengisian premium khusus motor. Sebagian besar SPBU sudah menyediakan tangki  khusus untuk motor. Berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi. Syarat pertama, untuk jalur motor ini, hanya menyediakan premium. Karena jalur motor ini memang diperuntukkan untuk kalangan yang tidak mampu membeli pertamax.  Syarat kedua, pada jalur ini hanya ada satu selang pengisian premium, yang artinya hanya  bisa melayani tiap satu motor, tidak paralalel kiri-kanan seperti di SPBU pada umumnya. Syarat ketiga, hanya menempatkan seorang petugas SPBU secara bergilir. Syarat terakhir, tangki untuk pertamax di jalur lain disediakan dengan jumlah yang lebih banyak, baik untuk motor maupun mobil. Artinya selang pertamax yang disediakan lebih banyak, juga dengan petugas yang mumpuni. Dimana para pengendara pun bebas memilih mengisi pertamax di jalur pengisian manapun.

Untuk apa semua itu?

  1. Membuat “ketidaknyamanan” di tangki pengisian premium. Karena hanya satu selang dan satu petugas, otomatis antrian panjang. Dan ingat, ada pengendara motor  yang tidak mau antri ataupun sedang tergesa-gesa, bahkan khawatir terlambat masuk kantor.
  2. Membuat tangki pengisian pertamax lebih nyaman. Tidak ada antrian. Sehingga, para pengendara motor yang melihat antrian panjang di jalur pengisian premium, segera beralih ke tangki pertamax.

Inilahyang kita upayakan, mendorong orang-orang pada kelompok kedua untuk lebih banyak menggunakan pertamax. Dengan kondisi tangki pengisian premium yang antri bahkan mengular ini, mereka dihadapkan pada pilihan : tetap mengantri dengan resiko lama bahkan terlambat masuk kerja atau beralih ke pertamax dengan keuntungan menghemat waktu. Dengan basic ekonomi yang berkecukupan,ingin perjalanan lebih cepat, pada akhirnya mereka yang ada pada kelompok kedua ini akan beralih menggunakan pertamax.

Dan perlu diingat, kita tidak berbicara pengelolaan hanya pada satu SPBU, tapi semua SPBU menerapkan strategi yang sama.

Kenapa tidak dihilangkan saja BBM bersubsidi? He.he.he anda ingin didemo masyarakat…Sebagai pemimpin, alangkah bijaknya ketika kita berani memberikan pilihan dan membiarkan masyarakatlah yang menentukan pilihan dengan segala resikonya. Itulah demokrasi.

About hendrianafaridh
Faridh Hendriana, lahir di Kuningan, kota di ujung timur provinsi jawa barat. Sekarang tinggal di kota Bandung.

2 Responses to Menurunkan Konsumsi BBM Ber-Subsidi? Begini Caranya!

  1. Delvi says:

    semakin banyak menulis semenjak di departemen itu yah? good job! semoga selalu istiqomah dalam sharing😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: