Ramai – ramai Remunerasi

Bagi saya, pemberian remunerasi atau tunjangan kinerja ini menimbulkan perkiraan-perkiraan tersendiri. Terlepas dari keinginan mensejahterakan atau keinginan “terpilih kembali” untuk Kepala Daerah yang mau nyalon lagi, atau sekedar memberikan “tanda mata” sebelum lengser. Bagi saya, pemberian tunjangan ini tetap ada pakem ekonominya. Ada hitung-hitungan ekonominya. Seperti misalnya : bahwa pemberian tunjangan kinerja ini akan meningkatkan konsumsi masyarakat, roda ekonomi berputar, tingkat pertumbuhan ekonomi bisa tercatat baik, industri meningkat, ujung-ujungnya pajak naik, pendapatan naik, bisa bayar utang. Nanti nyari pinjaman juga lebih mudah lagi. Jadi, gak masalah kalau sumber dana untuk pemberian tunjangan kinerja nya pun dari hasil pinjaman. Begitu kira-kira.

Lalu, bagaimana dengan reformasi birokrasi atau peningkatan produktifitas? Sulit bagi saya untuk menyepakati bahwa pemberian tunjangan mampu secara efektif mengikat komitmen seseorang untuk meningkatkan kinerjanya. Pemberian tunjangan baru sebatas dengan catatan : dengan harap kinerjanya meningkat. Penambahan take home pay (THP)  tidak serta merta membuat pegawai memiliki komitmen berlebih terhadap tempat kerjanya. Maka tak heran, peningkatan THP tidak mengubah budaya kerja seseorang.

Apa yang membuat pegawai mau berkomitmen ? Apa yang membuat pegawai mau bersungguh-sugguh bekerja mengeluarkan segenap sumberdayanya? Bagi saya, penting setiap pegawai merasa : dihargai (didengar), diperlakukan sama, diakui (dipakai, tidak disia-siakan), sebagai komponen utama untuk mengikat komitmen selain uang. Secara sederhana, hal ini bisa dilihat dalam sebuah permainan, dalam games, dalam sepak bola. Ya, hobi. Inilah yg mengikat komitmen. Coba lihat, berapa banyak bapak-bapak yang jam 7 pagi sudah ada di lapang tapi begitu susahnya datang jam 8 ke kantor. Ya, itu karena hobi, karena kecintaan. Secara umum, dalam menjalankan hobi, nilai-nilai itu berjalan tanpa disadari. Seseorang bisa memarahi atau dimarahi dalam permainan. Bisa teriak, mengomel sesuka hati, atau apapun itu selama dalam koridor permainan. Tidak ada batasan, tidak ada ketakutan. Permainan selesai, menang-kalah-seri, evaluasi. Beres!  Bisa jadi, karena nilai-nilai ini berjalan tanpa disadari dalam permainan, makanya menghadirkan hobi, menghadirkan kecintaan. Atau mungkin sebaliknya : hobi dan kecintaan lah yang membuat nilai-nilai tersebut diterapkan ? Hmmm..

Inilah PR-nya. Bagaimana nilai-nilai itu ditransformasikan ke dalam pekerjaan. Beruntung yg menjadikan hobinya sebagai pekerjaan, tapi bagi yang tidak sesuai, apakah harus menjadikan pekerjaan sebagai hobinya? he.he.he. tentu tidak !

 

 

About hendrianafaridh
Faridh Hendriana, lahir di Kuningan, kota di ujung timur provinsi jawa barat. Sekarang tinggal di kota Bandung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: